Polda Sultra Bersama Komponen Masyarakat Kabupaten Kolut, Berkomitmen Berantas Melawan Narkoba

    Tribratanewspolreskolut.com – Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) dipandang tidak saja menjadi salah satu tujuan peredaran narkotika dari provinsi lain namun juga menjadi jalur favorit penyelundupan barang haram menuju daerah lain. Wilayah yang mendiami gerbang utara Bumi Anoa itu saat ini menjadi rute utama distribusi narkoba menuju lima kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara (Sultra) saat ini.

Hal itu dikemukakan Wadir Reserse Narkoba Polda Sultra, AKBP La Ode Aries saat bertandang ke Kolut didampingi rekannya, Kasubbag Min Opsnal Ditresnarkoba Komisaris Polisi Rafiuddin melangsungkan sosialisasi dan penguatan kerjasama bersama pemerintah memerangi narkoba di Aula Rujab Bupati Pemkab Kolut, Selasa (28/11). Dibeberkan La Ode Aries, narkotika yang beredar di Kolaka, Konawes, Bombana, Konsel dan Kendari disuplai melalui Kolut. “Selain jadi incaran peredaran narkoba, Kolut merupakan daerah transit untuk menyuplai ke daerah lain,” ujarnya.

Sebagaimana rute peredaran, Narkoba yang melintasi Kolut didominasi dipasok dari Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan (Sulsel). Dari Kolut kemudian terbagi dua menuju Kolaka atau langsung menuju Kendari melintasi jalur lain. Sementara itu narkotika yang melintasi Kolaka sendiri dari Kolut menyebar menuju Bombana dan Konawe. “Dari Kendari juga dipasok menuju Konsel dan Bombana,” tuturnya.

Lanjut Aries, bandar dari luar negeri sedang berlomba-lomba menciptakan barangnharam jenis baru. Sayangnya pemerintah terkait di negara ini sebagai pemangku kebijakan khususnya DPR RI dinilai lamban membuat aturan. Akibatnya, banyak narkoba jenis baru masuk negara ini namun belum terakomodir dalam UU. “BNN merilis di Cina narkoba per Kg Rp. 2 jutaan. Masuk negara kita dijual murah untuk memancing pembeli per kg-nya hanya Rp. 1 juta. Masyarakat kita konsuptif setiap barang baru tertarik untuk dibeli,” bebernya.

Meski demikian jangan heran ucap diam meski diluar negeri dihukum mati, di negara ini hanya dikenakan pasal 127 dengan maksimal empat tahun penjara. Namun harus diingat pula jika jika setiap tersangka di bawa pidana lima tahun tidak bisa ditahan berdasarkan UU Nomor 35 tahun 2009 dimana wajib direhabilitasi dengan harapan proses penyelidikan berjalan dan pelaku divonis pengadilan dan dipenjara dengan pola rehabilitasi. “Faktanya, hampir 75 persen para pengguna narkoba yang sudah di lapas bukan menjadi jerah atau taubat namun malah menjadi-jadi,” ujarnya.

Ia membeberkan jika telah menangkap beberapa orang resedivis dan telah diintrogasinya secara langsung. Jawabannya mengejutkan karena mereka secara blak-blakan mengaku malah lebih nyaman melanjutkan aksinya saat mendekam di lapas. “Mereka mengaku lebih leluasa mengendalikan melalui lapas karena sulit tersentuh hukum. Faktanya memang begitu. Kami mencoba masuk lapas mereka bersih dan tidak ada narkoba maupun handphond,” bebernya.

Namun faktanya tidaklah benar-benar bersih. Di awal 2017 pihaknya melakukan razia bersama Kanwil Menkumham Sultra di Lapas Kendari. Terungkap, dari 120 napi narkoba, 32 positif mengkonsumsi narkoba. “Saya ingatkan saat ini telah 50 persen narkoba menggerogoti generasi muda tanpa terkecuali pelajar yang banyak tersandung,” pungkasnya.

Sementara itu, Kasubbag Min Opsnal Ditresnarkoba Komisaris Polisi Rafiuddin mengumbar data jika khusus Ditresnarkoba telah mengantongi kasus penangkapan sebanyak 55 kasus dengan 80 tersangka. 544,73 gram ganja, 446,80 gram sabu serta masing masing 1 pohon ganja dan extacy diamankan.

Total kasus penanganan kasus tersebut berjumlah 143 dengan 211 tersangka dalam kurun Januari-November 2017. Jumlah barang bukti selain extacy dan ganja dari seluruh jajaran polres se Sultra dirangkum sebesar 1,109 kg sabu, 554,73 gram ganja serta 7 linting tembakau gorilla. “17 tersangka saat ini tahap I dan 110 orang tahap II,” pungkasnya.

Related Posts